Dipantau La Liga
Sementara Eladio Antonio Reyes, selaku perwakilan Akademi La Liga mengatakan pembinaan yang dilakukannya tetap berhubungan dengan kurikulum dari negara Matador. Tentunya menyesuaikan kultur masyarakat di Indonesia.
“Semua program yang kami jalankan, dipantau oleh La Liga. Karena sistem dan fasilitas budaya yang berbeda, setidaknya apa yang kami bisa lakukan untuk mengembangkan bakat anak-anak di Indonesia.
Menurutnya, semua harus dibuat standar berdasarkan kelompok usia, dan anak didik dapat mengerti apa yang dimau pelatih di lapangan. Sebagai contoh pemain delapan tahun dapat dicampur dengan peserta 10 tahun dalam latiha. Kemudian untuk masuk fase taktik baru dapat dimulai usia 14 tahun.
“Sepak bola Spanyol bisa saya katakan mirip di Indonesia, permainan dari kaki ke kaki. Budaya sepak bola Spanyol bisa disesuaikan di Indonesia, PSSI juga punya proyek dengan sepak bola Spanyol. Di sisi lain bukan hanya soal hasil dalam pertandingan, itu bukan target utama. Tapi menciptakan pemain dari usia dini,” ungkapnya.
Sumber: bola.com



