Karimun – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri mencatat ada 30 kasus HIV di daerah tersebut sepanjang tahun 2024 ini.

“Dari Januari sampai Juni 2024 kasus baru HIV sebanyak 30 kasus,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Karimun Rachmadi, Kamis 27 Juni 2024.

Dikatakannya, dari jumlah tersebut mayoritas atau kebanyakan ditemukan pada kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL) sebanyak 9 orang, kemudian lain-lain juga 9 orang.

Kemudian disusul pelanggan pekerja seks (PS) sebanyak 6 orang. Selanjutnya pasangan resiko tinggi (Resti) 3 orang, waria 2 orang dan TB 1 orang.

“Berdasarkan kelompok resiko WPS, PPS, IDU, WBP, dan bumil nol kasus,” ucapnya.

Rachmadi menyampaikan, kasus HIV di Kabupaten Karimun naik turun dari tahun ke tahun. Kenaikannya tidak signifikan.

Baca: Kasus HIV di Kabupaten Karimun Menurun

Dipaparkannya, pada tahun 2014 tercatat sebanyak 105 kasus HIV, lalu naik di tahun 2015 menjadi 154 kasus, kemudian turun 118 kasus di 2016.

Lanjutnya, tahun 2017 kasus HIV di Bumi Berazam tersebut kembali turun tercatat 104 kasus, tahun 2018 mengalami kenaikan dengan jumlah 116 kasus.

Pada tahun 2019 kasusnya menurun drastis tercatat hanya 77 kasus, dan tahun 2020 kembali turun 66 kasus, di tahun 2021 naik sedikit menjadi 73 kasus.

“Selama 3 tahun terakhir kasusnya terus menurun. Tahun 2022 tercatat 53 kasus, tahun 2023 ada 52 kasus dan sepanjang tahun 2024 ini baru 30 kasus,” tambah Rachmadi.

Ia menyebutkan, berhasilnya menurunkan jumlah kasus HIV di Kabupaten Karimun dengan melakukan berbagai kegiatan.

Diantaranya, Pelayanan klinik Voluntary Counseling & Testing (VCT), pengobatan dan tes penyakit IMS, VCT dan IMS mobile, pelayanan klinik PMTCT, pelayanan klinik CST (Care Support & treatment), pelayanan mencakup kegiatan perawatan, dukungan dan pengobatan.

Baca: TNI AL Amankan PMI Ilegal dari Malaysia di Perairan Karimun

Selain itu, pemberian Anti Retro-viral Therapy (ART) kepada penderita dengan
terlebih dahulu tes CD4, pengobatan infeksi opportunistic, pelayanan gizi bagi pasien TB HIV serta pertemuan reguler pengelola program.

“Upaya pencegahan dan sosialisasi rutin kita lakukan. Kita imbau masyarakat tidak sering gonta-ganti pasangan seksual. Kami juga meminta ada keterbukaan terhadap pasangan terkait status HIV nya, sehingga dapat dilakukan upaya pencegahan untuk menurunkan risiko penularan baru,” kata Rachmadi.