Lingga – Selama tiga bulan tidak ada perubahan positif pada emosi remaja berinisial SR (14 tahun), warga Keluarahan Dabo Lama, Kecamatan Singkep, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri.

Sehingga orang tuanya, Syahrudin dan Sumirah belum dapat melepaskan rantai di kaki SR.

Untuk membawa SR berobat, kedua orang tuanya tidak memiliki anggaran yang cukup.

Mantan anggota DPRD Lingga Rudi Purwonugroho meminta Pemkab Lingga melalui OPD terkait cepat tanggap untuk memberikan solusi kepada SR. Tidak ada alasan keterbatasan anggaran hingga membiarkan SR tetap dirantai.

“Saya dengar Dinas Sosial tidak dapat menanggapi karena tidak adanya anggaran. Ini alasan yang tidak masuk akal, ” ujarnya saat mengunjungi kediaman SR, Rabu 26 Juni 2024.

Dikatakannya, sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah daerah untuk memberikan bantuan dalam kasus ini, peduli dan memperhatikan masyarakat yang membutuhkan uluran tangan.

Baca: Sering Mengamuk, Remaja di Lingga ini Dirantai Keluarga

Kalau berniat ingin memberikan solusi pasti ada jalan keluarnya. Selama ini yang terjadi malah terlihat lebih peduli Ormas dan LSM untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

“Saya sering melihat ormas maupun LSM meminta uluran tangan turun ke jalan untuk membantu masyarakat yang sedang membutuhkan bantuan. Kemana peran pemerintah daerah,” tegas Rudi.

Lanjutnya, Bupati Lingga seharusnya melakukan evaluasi terhadap pejabat-pejabat yang tidak bisa menjalankan tugas dan pungsinya dengan baik.

“Kemana peran pemerintah daerah,” katanya.

Rudi juga berharap kasus SR ini menjadi evaluasi bagi pemerintah daerah untuk lebih fokus memberikan sosialisasi terhadap pentingnya peran orang tua dalam memantau pergaulan anak-anaknya hingga kejadian serupa tidak kembali terulang.

Pantauan media meski dapat diajak berbicara, kondisi kejiwaan SR terlihat tidak normal. SR kerap melamun dengan pandangan kosong. Sesekali ia menangis ketika ditanyakan kepeduliannya pada orang tua.

Selain itu, kondisi rumah pasangan Syahrudin dan Sumirah juga terlihat jauh dari kata layak.

Selama ini, pasangan suami istri tidak pernah mendapatkan bantuan bedah rumah agar dapat layak huni.