Lebih lanjut, Dhanny menuturkan suara batuk akan diklasifikasikan lagi ke dalam dua kategori, yaitu batuk yang terindikasi Covid-19 dan non-Covid-19.

Batuk yang dikategorikan sebagai batuk non-Covid-19 pun, menurut dia, akan dideteksi lagi penyebabnya, misalnya batuk normal, batuk gejala tuberkulosis (TBC), bronkitis dan gejala lainnya.

“Pengelompokan ini didasarkan pada penyesuaian frekuensi, amplitudo dan komponen harmonik suara paru-paru,” kata lelaki yang menyelesaikan studi magister dan doktoralnya di Tokyo Institute of Technology, Jepang tersebut.

Hasil analisis elBicare Cough Analyzer terhadap penyebab batuk akan tersimpan dan terintegrasi otomatis, yang kemudian didistribusikan ke perangkat pengguna dengan bantuan bluetooth.

Dhany bersama delapan anggota tim lainnya ini memastikan ke depannya tim akan mengembangkan distribusi data menggunakan bantuan Wi-Fi.

“ElBicare Cough Analyzer mampu bertahan selama 20 jam penggunaan yang terus-menerus,” katanya.

Data pengelompokan batuk non-Covid-19 didapatkan melalui penelitian mandiri tim yang anggotanya terdiri dari tiga mahasiswa ITS jenjang sarjana (S1), dua mahasiswa ITS jenjang magister (S2), dan tiga orang dokter (salah satunya spesialis paru) dari Universitas Airlangga (Unair).

Sementara itu, terkait data penelitian batuk gejala Covid-19 didapatkan melalui penelitian yang bekerja sama dengan University of Cambridge, Inggris.

 

Sumber: Republika.co.id

Halaman:
1 2